RANCANG BANGUN ALAT PENGENDALI SUHU PADA FERMENTASI TEMPE BERBASIS MIKROKONTROLER

Authors

  • Budi Darmawan Jurusan Teknik Elektro, Fakults Teknik, Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat
  • Willy Pradiyanto Jurusan Teknik Elektro, Fakults Teknik, Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat
  • I Made Budi Suksmadana Jurusan Teknik Elektro, Fakults Teknik, Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat
  • Syafaruddin CH Jurusan Teknik Elektro, Fakults Teknik, Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat

Keywords:

dekafeinasi, enzim, labu siam, kafein

Abstract

Fermentasi tempe memerlukan waktu fermentasi 18 hingga 48 jam untuk. Lamanya proses fermentasi tempe ini mengakibatkan tidak optimalnya hasil dari produksi tempe sehingga dibutuhkanlah alat yang dapat mempercepat dan mengoptimalkan proses produksi pembuatan tempe. Alat optimasi fermentasi tempe ini bekerja pada suhu antara 30ºC - 37ºC. Alat ini menggunakan sensor DHT22 sebagai pendeteksi suhu dan kelembaban. Alat ini bekerja berdasarkan kontrol mikrokontroler arduino UNO menggunakan logika fuzzy. Jika suhu dalam ruang fermentasi lebih rendah dari nilai setting point maka lampu akan menyala, bila suhu lebih tinggi maka lampu akan mati, agar suhu yang diinginkan dapat tercapai. Hasil fermentasi tempe menggunakan alat membutuhkan waktu tercepat 22 jam pada suhu 35 ̊ celcius sedangkan yang paling lama membutuhkan waktu 45 jam pada suhu 39 ̊  celcius.

References

Adrianto, R., Damar W., Fidela D. A., Arifia Z. A. 2020. Penurunan kadar kafein pada biji kopi robusta menggunakan fermentasi dengan bakteri asam laktat Leuconostoc mesenteroides (B-155) dan Lactobacillus plantarum (B-76). J. Dinamika Penelitian Industri. 31 (2) : 163-169. DOI: http://dx.doi.org/10.28959/jdpi.v31i2.6424

Arwangga, A. F., I. A. R. A. Asih, dan I. W. Sudiarta. 2016. Analisis kandungan kafein pada kopi di desa sesaot narmada menggunakan spektrofotometri uv-vis. Jurnal Kimia. 10 (1): 110-114. DOI: https://doi.org/10.24843/JCHEM.2016.v10.i01.p15

Badan Standardisasi Nasional. 2004. Sni 3542-2004 tentang kopi bubuk. BSN. Jakarta.

Boyd, C. E. 1998. Water quality management for pond fish cultura. Elsever. Amsterdam.

Cindy, M. A. 2020. Konsumsi kopi domestik di indonesia terus meningkat selama 5 tahun terakhir.https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/11/24/konsumsi-kopi-domestik-di-indonesia-terus-meningkat-selama-5-tahun-terakhir. [Februari 2021].

Ciptadi, W. dan M. Z. Nasution. 1985. Pengolahan kopi. Agro Industri Press. Bogor.

Clarke, R. J., and R. Macrae. 1989. Coffee chemistry. Vol. I, II. Elsevier Applied Science. London and New York.

Daisa, J. Evy R. dan I. R. Dini. 2017. Pemanfaatan ekstrak kasar enzim papain pada proses dekafeinasi kopi robusta. Jom Faperta. 4 (1) : 1 - 14.

Erna, C. 2012. Uji aktivitas antioksidan dan karakteristik fitokimia pada kopi luwak arabika dan pengaruhnya terhadap tekanan darah tikus normal dan tikus hipertensi. Tesis Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Departemen Farmasi. Universitas Indonesia, Jawa Barat.

Fenni, O. 2012. Khasiat bombastis kopi. Gramedia. Jakarta.

Ferdiansyah, V. 2005. Pemanfaatan kitosan dari cangkang udang sebagai matriks penyangga pada imobilisasi enzim protease. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan. IPB, Bogor.

Kurtanto, T. 2008. Reaksi maillard pada produk pangan. IPB. Bogor.

Maramis, R., Citraningtyas G. dan Wehantouw, F. 2013. Analisis kafein dalam kopi bubuk di kota manado menggunakan spektrofotometri uv-vis. J. Ilmiah Farmasi. 2 (4) : 122-123. DOI: https://doi.org/10.35799/pha.2.2013.3100

Mulato, S. 2001. Pelarutan kafein biji kopi robusta dengan kolom tetap menggunakan pelarut air. Pelita Perkebunan. Jakarta.

Nainggolan, J. 2009. Kajian pertumbuhan bakteri acetobacter sp. Dalam kombucha rosela merah (Hibiscus sabdariffa) pada kadar gula dan lama fermentasi yang berbeda. Tesis. USU. Medan.

Oktadina, F. D., B. D. Argo dan M. B. Hermanto. 2013. Pemanfaatan nanas (Ananas comosus L. Merr) untuk penurunan kadar kafein dan perbaikan citarasa kopi (Coffea sp.) dalam pembuatan kopi bubuk. Jurnal keteknikan pertanian tropis dan biosistem. 1 (3) : 265 - 273.

Putri, J. M. A., Komang A. N. dan N. K. Putra. 2017. Pengaruh penggunaan getah pepaya (Carica papaya L.) pada proses dekafeinasi terhadap penurunan kadar kafein kopi robusta. Scientific Journal of Food Technology. 4 (2) : 138 - 147.

Ratnayani, K., A. A. Ayu S. J., A. A. I. A. Mayun L. dan I G. A. K. Sri P. D. 2015. Uji aktivitas protease getah labu siam dan talas serta perbandingannya terhadap getah pepaya. J. Kimia. 9 (2) : 147-152. DOI: https://doi.org/10.24843/JCHEM. 2015.v09.i02.p02

Reta, Mursalim, Muhidong J., and Salengke. 2017. Characteristic flavour of robusta coffee from south sulawesi after fermentation by ohmic technology. International Journal of Current Research in Biosciences And Plant Biology. 4 (7) : 33 - 38. DOI: https://doi.org/10.20546/ijcrbp.2017.407.004

Rosiana, E., Nurliana and T. T. R. Armansyah. 2013. Kadar asam laktat dan derajat asam kefir susu kambing yang di fermentasi dengan penambahan gula dan lama inkubasi yang berbeda. Jurnal Medika Veterinaria. 7 (2) : 87 - 90. DOI: https://doi. org/10.21157/j.med.vet..v7i2.2937

Saleh, S. A., Rosiana U. dan B. Setyawan. 2020. Identifikasi kadar air, tingkat kecerahan dan citarasa kopi robusta dengan variasi lama perendaman. Jurnal Teknologi Pangan dan Ilmu Pertanian. 2 (5) : 41 - 48.

Setyani, S., Subeki dan H. A. Grace. 2017. Karakteristik sensori, kandungan kafein dan asam klorogenat kopi bubuk robusta (Coffea canephora L.) di Tanggamus, Lampung. Semnas PATPI Bandar Lampung. http://repository.lppm.unila.ac.id/7261/1/Setyani1.pdf. [November 2021].

Sivetz, M. 1972. How acidity affects coffee flavour. Di dalam botany, biochemistry and production of beans and beverages. The AVI Publishing Company. Inc., Westport, Connecticut.

Sivetz, M., and N. W. Desrosier. 1979. Coffee technology. The AVI Publ. Co. Inc., Wesport, Connecticut.

Smith, J. E. 1993. Prinsip bioteknologi, cetakan kedua. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Sofwan, R. 2013. Bugar selalu di tempat kerja. PT Bhuana Ilmu Populer. Jakarta.

United States Departement of Agriculture (USDA). 2018. National nutrient database for standard reference legacy release, basic report : 11149, chayote, fruit, raw. Nutrient Data Laboratory. United States.

Usmiati, S. dan T. Utami. 2008. Pengaruh bakteri probiotik terhadap mutu sari kacang tanah fermentasi. Jurnal Pasca Panen. 5 (2) : 27 - 36. DOI: http://dx.doi.org/10.21082/ jpasca.v5n2.2008.27-36

Wijaya, D. A., Sudarminto dan S. Yuwono. 2015. Pengaruh lama pengukusan dan konsentrasi etil asetat terhadap karakteristik kopi pada proses dekafeinasi kopi robusta. J. Pangan dan Agroindustri. 3 (4) : 1560-1566.

Wilujeng, A. A. T. dan P. R. Wikandari. 2013. Pengaruh lama fermentasi kopi arabika (Coffee arabica) dengan bakteri asam laktat Lactobacillus plantarum b1765 terhadap mutu produk. Journal of Chemistry. 2 (3) : 1 - 10.

Wong, D. W. S. 1989. Mechanism and theory in food chemistry. Academic Press. New York.

Yatim, W. 2003. Biologi modern biologi sel. Tarsito. Bandung.

Yuliana, N. 2007. Profil fermentasi rusip yang dibuat dari ikan teri (Stolephorus sp.). Agritech. 27 (1) : 12 - 17. DOI: https://doi.org/10.22146/agritech.9488

Yuningtyas, S., Syahid P. Al-Wali dan Winugroho. 2019. Penentuan kadar kafein kopi robusta terfermentasi oleh Enterococcus durans, Enterococcus sulfureus dan Lactococcus garvieae. https://ejournal.sttif.ac.id/index.php/farmamedika/article/ download/47/43/. [November 2021].

Published

2022-01-31

Issue

Section

Articles